Sebanyak empat calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) meninggal dunia saat menjalani Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) hingga Jumat, 26 Juni 2026. Keempat peserta tersebut adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Menurut keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan), insiden ini terjadi di berbagai lokasi pelatihan yang berbeda.
Anisa Muyassaroh, peserta pertama, mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke setelah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Karo Infohan Kemhan Brigjen TNI Rico Rico Sirait menyampaikan bahwa kondisi Anisa memburuk sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.
Peserta kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad) di Baturaja.
Ia mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 dan meninggal dunia akibat cardiac arrest setelah mendapatkan penanganan medis dari tenaga kesehatan satuan.
Novia Rahmadhani Sihotang, peserta ketiga, mengikuti pendidikan di Pusat Bahasa Kodiklatau Jakarta. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan meskipun telah dirawat intensif, ia dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026 karena penyakit Tuberkulosis.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mendapatkan perawatan, kondisi kesehatan Novia tidak membaik.
Peserta keempat, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, yang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465, mengeluhkan sesak napas pada 25 Juni 2026. Ia dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa setelah kondisinya memburuk.
Rifki meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB setelah mendapatkan perawatan intensif, termasuk di ruang Intensive Care Unit (ICU).
Menanggapi kejadian tragis ini, Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Evaluasi tersebut mencakup penguatan proses seleksi kesehatan, deteksi dini kondisi medis peserta, serta peningkatan pengawasan oleh tenaga kesehatan selama pendidikan.
Program SPPI sendiri bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan untuk mendukung pembangunan nasional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.












Tinggalkan komentar