Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Diprediksi Melambat karena Tekanan Eksternal

Sinta Nur

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Diprediksi Melambat karena Tekanan Eksternal
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Diprediksi Melambat karena Tekanan Eksternal

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diprediksi mencapai 5,20%, lebih rendah dibandingkan kuartal I yang mencapai 5,61%. Perlambatan ini disebabkan oleh tekanan eksternal yang bersifat sementara, menurut Fithra Faisal Hastiadi, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia.

Dalam risetnya, Fithra menyatakan bahwa meskipun ada perlambatan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan menunjukkan tanda-tanda yang positif.

Saan Mustopa Tegaskan Fungsi Kontrol DPR Tetap Berjalan Meski Mayoritas Koalisi

Fithra menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga tetap tangguh, belanja pemerintah meningkat melalui program fiskal yang dipercepat di awal tahun, dan investasi tetap sehat. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia memasuki tahun 2026 dengan momentum yang baik, meskipun ada tantangan yang dihadapi.

Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu pasar energi, menyebabkan harga minyak melonjak di atas US$100 per barel. Kenaikan harga ini berimbas pada melemahnya mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dan menyusutnya surplus perdagangan Indonesia yang disebabkan oleh peningkatan tagihan energi nasional.

Mendagri Apresiasi Parade Tenun Belu untuk Budaya dan Ekonomi Daerah

Fithra juga menyoroti bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat mempengaruhi inflasi di Indonesia. Keputusan yang diambil oleh Federal Reserve, seperti kenaikan suku bunga, dapat berdampak pada keputusan investasi di dalam negeri. Ini menunjukkan bahwa perekonomian domestik sangat dipengaruhi oleh peristiwa global yang terjadi jauh dari Indonesia.

Fithra menekankan bahwa stabilitas nilai tukar sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi impor.

Dalam konteks ini, stabilitas nilai tukar bukan hanya melindungi mata uang, tetapi juga berfungsi untuk mempertahankan kepercayaan investor dan memastikan dunia usaha dapat mengambil keputusan investasi jangka panjang dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi.

Fithra menegaskan bahwa dalam perekonomian yang terintegrasi dengan pasar keuangan global, ketidakstabilan nilai tukar dapat memicu inflasi yang lebih tinggi, biaya pendanaan yang meningkat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah.

Oleh karena itu, mempertahankan stabilitas rupiah menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang ada saat ini.

Tinggalkan komentar