Kimia Farma Percepat Produksi Bahan Baku Obat Lokal untuk Kemandirian Industri

Hayati Intisari

Kimia Farma Percepat Produksi Bahan Baku Obat Lokal untuk Kemandirian Industri
Kimia Farma Percepat Produksi Bahan Baku Obat Lokal untuk Kemandirian Industri

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tengah mempercepat transformasi bisnisnya dengan fokus pada produksi bahan baku obat (BBO) lokal.

Langkah strategis ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta membangun ekosistem layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat lanjut usia (lansia), yang diproyeksikan menjadi pasar potensial dalam beberapa dekade mendatang.

Inalum Tunjuk Kemal Sudiro Sebagai Direktur Sumber Daya Manusia dan Transformasi Bisnis

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menjelaskan bahwa keberhasilan perseroan dalam membukukan perbaikan kinerja pada kuartal I-2026 menjadi fondasi penting untuk melanjutkan transformasi bisnis secara menyeluruh. Pada kuartal tersebut, Kimia Farma mencatat pertumbuhan laba kotor sebesar 11,06% menjadi Rp 824,8 miliar.

Selain itu, EBITDA juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 61,29% menjadi Rp 153,8 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja operasional yang baik ini mendorong Kimia Farma untuk kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 123,6 miliar.

Harga Asli Pertamax Diperkirakan Rp19.000-Rp20.000 per Liter

Djagad menambahkan bahwa capaian tersebut menjadi modal penting bagi perseroan untuk menjaga momentum transformasi melalui efisiensi operasional, optimalisasi portofolio produk dengan margin tinggi, serta penguatan rantai pasok. Hal ini sangat penting di tengah tekanan global akibat pelemahan nilai tukar dan kenaikan harga bahan baku.

Salah satu fokus utama dari transformasi Kimia Farma adalah memperkuat sektor hulu dengan meningkatkan produksi BBO dalam negeri. Saat ini, industri farmasi nasional masih bergantung pada impor sekitar 95% kebutuhan bahan baku.

Melalui anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perseroan telah memiliki 19 jenis BBO yang telah mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 produk juga telah memperoleh sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Manajemen Kimia Farma meyakini bahwa optimalisasi produksi bahan baku lokal akan meningkatkan ketahanan rantai pasok dan mengurangi risiko fluktuasi harga yang selama ini dihadapi akibat ketergantungan pada impor.

Dengan langkah ini, Kimia Farma tidak hanya berkontribusi pada kemandirian industri farmasi nasional, tetapi juga berupaya memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, khususnya di segmen lansia.

Tinggalkan komentar