Akademisi UI Kritik Kehadiran Aparat di Kampus Saat Ujian Doktoral Tifauzia Tyassuma

Zeko Arabian

Akademisi UI Kritik Kehadiran Aparat di Kampus Saat Ujian Doktoral Tifauzia Tyassuma
Akademisi UI Kritik Kehadiran Aparat di Kampus Saat Ujian Doktoral Tifauzia Tyassuma

Masuknya aparat kepolisian ke ranah akademik saat pelaksanaan ujian doktoral Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa menuai kritik dari akademisi senior Universitas Indonesia, Prof. Suzie. Ia menyatakan tindakan tersebut mencederai kebebasan akademik dan merusak iklim otonomi kampus.

Menurut Suzie, kehadiran aparat mengawasi jalannya ujian akademis merupakan preseden buruk dan tidak lazim dalam sistem pendidikan. "Ini sudah melebihi dari autocratic legalism. Autocratic legalism yang disertai oleh teror. Karena seseorang yang akan diuji kenapa harus diteror?" kata Suzie dalam wawancara di Forum Keadilan TV.

Kejaksaan Agung Segel Ribuan Motor Listrik, Tunggu Keputusan Badan Gizi Nasional

Pada Jumat, 19 Juni 2026, Dokter Tifa ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan fitnah ijazah palsu. Setelah penangkapan tersebut, ia terpaksa menjalani sisa ujian doktoralnya di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. Situasi ini mendapatkan sorotan tajam dari berbagai pihak.

Suzie menegaskan bahwa tindakan represif di lingkungan kampus tanpa prosedur yang jelas melanggar otonomi universitas. Ia merujuk pada aturan yang menyatakan bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki otoritas penuh atas teritorinya sendiri, yang tidak boleh diintervensi sembarangan.

Pramono Anung Resmikan Wajah Baru Jalan HR Rasuna Said di Jakarta Selatan

"Masuknya aparat pemerintah secara represif ke dalam kampus itu harus dengan seizin rektor. Apalagi seorang yang sedang akan mengalami ujian, kenapa hal tersebut harus diganggu?" tegas Suzie, yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Amerika UI.

Pandangan Suzie mencerminkan keprihatinan lebih luas tentang integritas proses akademik. Intervensi tersebut dianggap mengganggu proses evaluasi yang seharusnya dilaksanakan dalam suasana yang bebas dari tekanan eksternal.

Kasus ini menjadi indikator penting tentang bagaimana kebebasan akademik bisa terancam oleh faktor eksternal. Usulan sejumlah akademisi untuk menciptakan kebijakan yang lebih ketat terkait intervensi aparat di kampus semakin mengemuka pasca insiden ini.

Tinggalkan komentar