Ketegangan Israel dan Lebanon Tekankan Harga Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya

Virgiawan Mahardika

Juni 21, 2026

2
Min Read
Ketegangan Israel dan Lebanon Tekankan Harga Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya
Ketegangan Israel dan Lebanon Tekankan Harga Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya

Meningkatnya ketegangan antara Israel dan Lebanon pada 19 Juni 2026 memberikan tekanan signifikan terhadap harga Bitcoin dan aset kripto lainnya. Pada perdagangan hari itu, harga Bitcoin sempat turun hampir 5% menjadi sekitar US$ 62.601.

Namun, Bitcoin kembali mengalami pemulihan menjadi US$ 63.628 atau menguat sekitar 1,65% dalam 24 jam berikutnya. Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi di pasar kripto sempat menyentuh sekitar US$ 579,43 juta, dengan posisi long mendominasi senilai US$ 496,62 juta.

Sementara itu, posisi short mencapai US$ 82,81 juta, dan lebih dari 139.000 trader terdampak dalam periode yang sama. Bitcoin tercatat sebagai aset dengan nilai likuidasi terbesar, mencapai US$ 191,49 juta, diikuti oleh Ethereum dengan nilai likuidasi sekitar US$ 135,46 juta.

Beberapa aset kripto lain, termasuk HYPE, XRP, SOL, dan ADA, juga mengalami tekanan yang signifikan. Tokocrypto menjelaskan bahwa kondisi pasar mencerminkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa tekanan jual tidak hanya disebabkan oleh sentimen makro, tetapi juga dipicu oleh posisi leverage yang tinggi. Ia menjelaskan, "Ketika konflik geopolitik meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto."

Fyqieh melanjutkan bahwa likuidasi berantai dapat mempercepat penurunan harga. Ia menekankan pentingnya menjaga Bitcoin di atas level psikologis US$ 60.000 untuk mencegah pasar memasuki fase koreksi lebih dalam.

Dari sisi teknikal, disebutkan bahwa Bitcoin saat ini berada di area krusial US$ 64.000 hingga US$ 66.000. Jika harga menembus zona ini, peluang pemulihan menuju area resistensi US$ 74.000 hingga US$ 76.000 dapat terbuka.

Sebaliknya, penolakan di area tersebut berpotensi membatasi pergerakan di rentang US$ 60.000 hingga US$ 65.000.

Meski demikian, beberapa indikator menunjukkan upaya pembentukan dasar harga di sekitar US$ 60.000. Likuiditas beli di order book spot mulai meningkat, menandakan beberapa pelaku pasar bersiap menyerap tekanan jual di level bawah.

Fyqieh menambahkan, "Investor perlu disiplin dalam mengelola risiko di tengah pasar yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik."

Ia mengingatkan bahwa volatilitas dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih tinggi. Oleh karena itu, manajemen risiko dan penggunaan leverage yang konservatif menjadi sangat penting bagi investor dalam kondisi pasar saat ini.


Catatan sumber artikel

Artikel informasi ini dari sumber: finance.detik.com. Sebelum diterbitkan, isinya sudah diperiksa dua kali oleh penulis dan editor kami agar informasinya dijamin benar.

Tinggalkan komentar