Studi Temukan Desain Menarik di Kemasan Vape yang Beredar di Indonesia

Zeko Arabian

Studi Temukan Desain Menarik di Kemasan Vape yang Beredar di Indonesia
Studi Temukan Desain Menarik di Kemasan Vape yang Beredar di Indonesia

Penelitian oleh Institute for Global Tobacco Control (IGTC) dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menunjukkan bahwa desain kemasan vape di Indonesia sebagian besar menarik minat remaja. Studi ini dilakukan di Jakarta, Medan, dan Surabaya terhadap 825 produk rokok elektronik.

Hasil penelitian mengungkapkan 58 persen produk memiliki elemen desain yang dinilai menarik bagi kalangan muda. Unsur yang digunakan meliputi karakter kartun, animasi, dan tipografi unik, serta nama merek yang bersifat playful.

Tuduhan PDIP Terlibat dalam Demo Mahasiswa Dianggap Tidak Berdasar

Selain desain, hampir seluruh produk yang diteliti menawarkan beragam varian rasa. Sekitar 96 persen kemasan mencantumkan setidaknya satu rasa, sebagian besar didominasi rasa buah dan makanan penutup. Lebih dari dua pertiga kemasan juga menampilkan visual yang menunjukkan rasa tertentu.

Penelitian ini juga mencatat bahwa hampir seperempat produk menggunakan concept flavors, yaitu deskripsi rasa yang bersifat imajinatif seperti “tropical breeze” atau “dark sparkle”. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control sebagai bagian dari proyek global Tobacco Pack Surveillance System (TPackSS).

Ibu Buang Bayi di Makassar Ditangkap Saat Mau Kabur ke Bone, Diduga Disuruh Suami Siri

Ruang lingkup penelitian ini menekankan perlunya penguatan regulasi pengendalian produk tembakau dan nikotin di Indonesia. Regulasi tersebut termuat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.

Beberapa ketentuan dalam peraturan ini meliputi kewajiban peringatan kesehatan bergambar sebesar 50 persen pada kemasan rokok elektronik serta peningkatan batas usia pembelian menjadi 21 tahun.

Pelarangan perisa selain tembakau juga menjadi bagian dari peraturan tersebut, termasuk larangan promosi di media sosial dan penetapan batas maksimum kadar nikotin dan tar.

Prof. Katherine Clegg Smith dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan pentingnya pembatasan elemen pemasaran pada produk vape.

“Peringatan kesehatan berukuran besar bukan hanya untuk mencegah konsumen baru, tetapi juga untuk membatasi penggunaan visual pemasaran,” ujarnya pada 22 Juni 2026.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mencatat bahwa perisa adalah salah satu faktor utama yang mendorong remaja mencoba produk tembakau dan nikotin. Lebih dari 50 negara telah melarang penjualan produk tembakau berperisa, dan banyak negara lain juga membatasi atau melarang rokok elektronik.

Tinggalkan komentar