Nyayu Maryati Sukses Kembangkan UMKM Pempek Rafi 81 di Jakarta

Virgiawan Mahardika

Juni 21, 2026

2
Min Read
Nyayu Maryati Sukses Kembangkan UMKM Pempek Rafi 81 di Jakarta
Nyayu Maryati Sukses Kembangkan UMKM Pempek Rafi 81 di Jakarta

Bagi banyak orang yang merantau, adaptasi di ibu kota adalah tantangan. Nyayu Maryati, yang pindah dari Palembang ke Jakarta pada tahun 2010, kini mengembangkan usaha kuliner Pempek Rafi 81 dari bazar ke bazar.

Berawal dari kerinduan akan rasa asli Pempek, Nyayu mendirikan usahanya setelah mengatasi berbagai kesulitan. Di Jakarta, ia merasakan kesulitan menemukan Pempek yang sesuai seleranya.

Pada Desember 2014, dengan modal Rp 2 juta, Nyayu membuka warung pertamanya. Ia memilih nama Pempek Rafi 81, Rafi diambil dari nama anaknya dan 81 dari tanggal lahir suaminya yang memiliki makna kesempurnaan.

Setelah empat tahun di Jakarta, titik balik baginya terjadi ketika suaminya resign pada pertengahan 2014, memicu ide untuk membuka usaha Pempek. Nyayu bercita-cita menyajikan Pempek asli dengan harga terjangkau.

Strategi yang diambil mencakup penyesuaian rasa untuk memenuhi selera masyarakat Jakarta yang sensitif terhadap aroma laut. "Awalnya aku bikin Pempek yang enggak terlalu ikan banget," ujarnya saat menceritakan proses pengembangannya.

Pada 2018, Nyayu bergabung dengan UMKM binaan Rumah BUMN BRI, yang membantu dengan pelatihan branding dan digital marketing. Menurutnya, saran dari mentor adalah untuk tetap menonjolkan keotentikan rasa Pempek.

Untuk menjangkau konsumen yang beragam di Jakarta, ia memproduksi tiga varian Pempek. Varian pertama menggunakan Ikan Tenggiri, kedua menggunakan Ikan Kakap, dan varian ketiga adalah versi yang tanpa ikan, menggunakan Udang Rebon.

Meskipun usaha dihadapkan pada tantangan saat pandemi COVID-19, Nyayu mengubah strategi dengan fokus pada sistem Pre-Order online. Selain itu, ia aktif ikut bazar UMKM.

Sekarang, ia mampu memproduksi minimal 2.500 pcs pempek frozen setiap bulan dan telah memperluas menu seperti tekwan dan nasi minyak. Bazar yang diikutinya memberikan hasil positif, seperti saat mengikuti event Indonesia Open dengan omzet di atas Rp 12 juta.

Nyayu juga menyasar pasar mahasiswa dengan ikut bazar di Universitas Bina Nusantara setelah mengikuti kelas digital marketing. Dalam waktu tiga hari di bazar, ia memperoleh omzet Rp 6-7 juta.

Strategi penjualannya saat ini mengandalkan WhatsApp Business dan Google My Business. Ia juga menggunakan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi di era digital.

“Penggunaan QRIS membantu operasional usahaku karena tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian,” jelasnya. Nyayu telah membuktikan bahwa dengan ketekunan dan inovasi, usaha kulinernya mampu bertahan dan berkembang di Jakarta.


Note:

Referensi sumber: finance.detik.com. untuk menjamin informasi yang kami sajikan dari sumber terpercaya.

Tinggalkan komentar