Penyedia indeks saham global, MSCI, mengingatkan bahwa pasar modal Indonesia berisiko turun kelas dari Emerging Market ke Frontier Market. Hal ini diungkapkan dalam hasil MSCI 2026 Market Classification Review yang diumumkan pada Rabu, 24 Juni 2026.
Keputusan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia bisa diambil akibat adanya kekhawatiran investor institusional global mengenai transparansi. Terdapat dua aspek utama yang disoroti, yaitu kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan indikasi praktik perdagangan terkoordinasi.
Peninjauan pasar akan dilakukan MSCI pada bulan November mendatang, dan opsi untuk turun ke kategori Frontier Market akan dipertimbangkan jika tidak ada kemajuan signifikan terkait isu transparansi.
MSCI menegaskan, "Apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada saat Peninjauan Indeks MSCI bulan November 2026, kami akan mempertimbangkan opsi mengenai penanganan yang tepat untuk pasar Indonesia.”
Kekhawatiran investor mengenai kelayakan investasi di pasar modal Indonesia juga terus meningkat. MSCI mencatat telah menerima keluhan dari investor terkait transparansi pasar. Sebelumnya, pada 19 Juni, MSCI telah menurunkan nilai aksesibilitas pasar modal Indonesia, khususnya pada kriteria informasi aliran.
MSCI menjelaskan, “Kedua kekhawatiran tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai jumlah saham yang benar-benar beredar (free float) dan mengandalkan harga pasar yang teramati. Ini berkaitan langsung dengan pilar informasi dan infrastruktur pasar dalam kerangka kerja aksesibilitas pasar MSCI.”
Walaupun ada kekhawatiran tersebut, Indonesia masih termasuk dalam jajaran Emerging Market bersama negara-negara seperti China, India, Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand. MSCI juga mengakui adanya reformasi pasar modal yang dilaksanakan oleh Self-Regulatory Organization (SRO).
Reformasi yang diakui antara lain peningkatan keterbukaan informasi mengenai pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), dan kenaikan free float menjadi 15%.












Tinggalkan komentar