Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan signifikan pada Kamis, 25 Juni 2026. Penurunan ini terjadi setelah harga CPO mencapai level terendah dalam sepekan, dipicu oleh kombinasi beberapa faktor negatif.
Salah satu penyebab utama adalah penguatan nilai tukar ringgit Malaysia, yang membuat harga CPO dari Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga mengurangi daya saing ekspor CPO Malaysia.
Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 turun 62 Ringgit Malaysia menjadi 4.513 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka untuk Agustus 2026 anjlok 69 Ringgit Malaysia menjadi 4.535 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak untuk Oktober 2026 juga mengalami penurunan signifikan, ambrol 80 Ringgit Malaysia menjadi 4.579 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO untuk November 2026 terpangkas 85 Ringgit Malaysia menjadi 4.599 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak untuk Desember 2026 ambles 86 Ringgit Malaysia menjadi 4.623 Ringgit Malaysia per ton.
Penurunan harga ini mencerminkan dampak dari melemahnya harga minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago, serta turunnya harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak mentah mengikis daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel, yang semakin memperburuk kondisi pasar.
Menurut Tradingview, situasi ini menunjukkan bahwa pasar CPO sedang menghadapi tantangan yang cukup berat.
Meskipun harga CPO mengalami penurunan yang signifikan, pemerintah tetap mempertahankan tarif bea keluar sebesar 10%. Kebijakan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar meskipun dalam kondisi yang tidak menguntungkan bagi para pelaku industri.
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh sektor CPO diharapkan dapat diatasi melalui langkah-langkah strategis yang lebih efektif di masa mendatang.












Tinggalkan komentar