IHSG Tertekan oleh Sentimen Global, Investor Hati-hati Menanti Data Ekonomi

Aoi Hyuga

IHSG Tertekan oleh Sentimen Global, Investor Hati-hati Menanti Data Ekonomi
IHSG Tertekan oleh Sentimen Global, Investor Hati-hati Menanti Data Ekonomi

Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global dan domestik.

Pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi kekhawatiran atas prospek belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat, ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta sikap wait and see investor terhadap sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Kementerian UMKM Terbitkan Aturan Baru untuk Lindungi Seller di E-Commerce

Brigita Kinari, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa tekanan di pasar saham Indonesia tidak terlepas dari meningkatnya volatilitas bursa global yang terjadi sepanjang pekan lalu. Sentimen negatif muncul setelah laporan penundaan penawaran umum perdana (IPO) OpenAI, yang disebabkan oleh tingginya volatilitas pasar.

Hal ini memicu aksi jual pada saham-saham teknologi global, terutama emiten semikonduktor. Dalam periode 22-26 Juni 2026, Nasdaq Composite mengalami koreksi hingga 4,6%, sementara indeks S&P 500 melemah hampir 2%.

Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor Bahan Baku Plastik dan LPG

Berbeda dengan itu, Dow Jones Industrial Average justru mampu menguat sekitar 0,6% karena investor melakukan rotasi portofolio menuju saham-saham defensif seperti sektor kesehatan, konsumer primer, jasa keuangan, dan utilitas.

Dari dalam negeri, Brigita menilai bahwa pelaku pasar masih cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis berbagai indikator ekonomi penting pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.

Data inflasi, neraca perdagangan, tingkat kepercayaan konsumen, serta arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada pertengahan Juli mendatang menjadi fokus perhatian investor.

Selain itu, pemerintah telah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun melalui delapan program insentif guna menjaga daya beli masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit.

Secara teknikal, Brigita memperkirakan IHSG masih berada dalam tren penurunan (downtrend) jangka menengah meskipun sempat mengalami rebound dari level terendah sebelumnya. Pelemahan histogram MACD dan Stochastic RSI juga mengindikasikan bahwa momentum penguatan mulai terbatas.

IPOT memperkirakan IHSG berpeluang menguji area support 5.700-5.800 dalam waktu dekat. Selama area tersebut mampu dipertahankan, indeks diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi pada kisaran 5.500-6.400.

Konfirmasi pembalikan tren menjadi bullish baru akan terbentuk apabila IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452, sehingga setiap penguatan sebelum level tersebut tercapai masih dikategorikan sebagai relief rally.

Tinggalkan komentar