Investor Asing Jual Bersih Rp 298,9 Miliar di Bursa Efek Indonesia

Aoi Hyuga

Investor Asing Jual Bersih Rp 298,9 Miliar di Bursa Efek Indonesia
Investor Asing Jual Bersih Rp 298,9 Miliar di Bursa Efek Indonesia

JAKARTA, investor.id – Pada Kamis, 25 Juni 2026, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 298,9 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun ini meningkat menjadi Rp 71,1 triliun, berdasarkan data yang dirilis oleh BEI.

Aksi jual ini menunjukkan tren penjualan yang terus berlanjut oleh investor asing di pasar saham Indonesia.

Diskon Listrik 50 Persen Berlaku Hingga 23 Juni 2026 untuk Pelanggan Tertentu

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi fokus utama dalam aksi jual asing. Khususnya, net sell pada saham BBRI mencapai Rp 93,2 miliar, menandakan minat jual yang signifikan terhadap saham bank tersebut.

Hal ini dapat mencerminkan kekhawatiran investor asing terhadap kinerja saham-saham perbankan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

Wakil Ketua DPR Hubungi Direktur Utama Pertamina Terkait Ancaman PHK Buruh

Sebaliknya, investor asing melakukan transaksi beli bersih (net buy) terbesar pada saham PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) dengan nilai Rp 84,7 miliar.

Meskipun angka ini terbilang kecil dibandingkan dengan net sell yang terjadi, hal ini menunjukkan bahwa masih ada minat dari investor asing untuk berinvestasi di sektor-sektor tertentu di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 115,1 poin atau 1,9% ke level 5.999. Dalam perdagangan hari itu, sebanyak 562 saham mengalami kenaikan, 148 saham turun, dan 249 saham stagnan.

Total nilai transaksi di pasar mencapai Rp 13,6 triliun, mencerminkan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi di tengah aksi jual yang dilakukan oleh investor asing.

Penguatan IHSG didorong oleh seluruh sektor saham, dengan sektor infrastruktur mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 3,8%. Selain itu, sektor kesehatan dan barang konsumen non-primer juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 3% dan 2,5%.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari aksi jual asing, pasar masih mampu menunjukkan daya tahan yang baik.

Investor saat ini mencermati rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dari Amerika Serikat yang akan datang. Data ini menjadi indikator penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga di masa depan.

Di dalam negeri, penguatan IHSG terjadi meskipun pasar masih mencerna hasil tinjauan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam indeks pasar berkembang, dengan perhatian pada isu transparansi dan aksesibilitas pasar yang terus menjadi sorotan.

Tinggalkan komentar