Produksi beras Indonesia diproyeksikan mencapai 38,6 juta ton pada 2026/2027, meskipun produksi global diperkirakan turun menjadi 552,4 juta ton. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan, "Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak." Ini menunjukkan pencapaian Indonesia di sektor pertanian yang membanggakan di tengah situasi mengikuti penurunan cadangan global.
Laporan FAO menyebutkan bahwa produksi beras dunia mengalami penurunan 1,6 persen dari tahun sebelumnya. Di saat yang sama, produksi beras Indonesia meningkat signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/25 ke angka yang baru diproyeksikan.
Indonesia kini menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia, berada di bawah India, China, dan Bangladesh. FAO mencatat bahwa Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara produsen yang terus meningkatkan produksinya saat negara lain mengalami penurunan.
Produksi beras Thailand turun 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton, sedangkan produksi Amerika Serikat mengalami penurunan hingga 15,2 persen, mencapai panen terendah dalam empat tahun. Brasil juga mencatatkan penurunan produksi sebesar 12,9 persen, dan Kamboja mengalami penurunan 2,8 persen.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, hampir seluruh dunia diperkirakan akan mengalami penurunan hasil panen, terkecuali Benua Afrika. FAO menyebutkan dua penyebab utama kondisi ini, yaitu ketidakpastian iklim akibat El Niño dan merosotnya profitabilitas usaha tani akibat harga jual yang melemah.
Kementan menekankan bahwa harga energi dan pupuk yang mahal memaksa banyak petani di kawasan Asia Tenggara menunda masa tanam. Dampak dari situasi ini adalah berkurangnya pasokan beras global dan penurunan cadangan beras dunia.
FAO memproyeksikan stok beras dunia pada akhir 2026/2027 akan turun menjadi 213,8 juta ton dari 219,7 juta ton sebelumnya. Perdagangan beras global juga diperkirakan mengempis sebesar 2,1 persen, menjadi 59,8 juta ton.
Kementan percaya bahwa fenomena ini dapat menjadi peluang bagi Indonesia, dengan negara-negara tetangga diperkirakan akan meningkatkan volume impor beras. Filipina, misalnya, dikategorikan sebagai salah satu importir terbesar dan perlu membeli lebih banyak beras karena produksinya tertekan.
Peningkatan produksi beras Indonesia juga didukung oleh meluasnya areal panen padi mencapai 10,22 juta hektare, naik 11,90 persen dibandingkan tahun lalu. Tren ini menunjukkan konsistensi sejak awal tahun.
Sebagai simbol komitmen pemerintah dalam ketahanan pangan, Wakil Presiden Gibran Tanam juga menyerukan kepada para petani dan nelayan untuk bersatu menghadapi tantangan global. Upaya pemerintah termasuk mempercepat program hilirisasi komoditas seperti kakao dan kopi.
Kementan optimistis terhadap kondisi neraca komoditas pangan, khususnya beras, dan menargetkan swasembada bawang putih dalam 3-4 tahun ke depan. Pemerintah juga mendorong beberapa tindakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, termasuk penyesuaian harga Tandan Buah Segar (TBS).












Tinggalkan komentar