KOMPAS.com – OpenAI menilai Indonesia berada dalam fase baru adopsi kecerdasan buatan (AI), yang ditandai dengan peningkatan penggunaan AI untuk menjalankan proses bisnis, bukan hanya untuk produktivitas individu.
Head of Go-To-Market Asia Pacific OpenAI, Andy Brown, menjelaskan bahwa pergeseran ini terlihat dari pertumbuhan penggunaan layanan Codex, AI agent yang diciptakan oleh OpenAI. Codex dapat menyelesaikan berbagai tugas secara mandiri.
Berbeda dari chatbot biasa yang hanya menjawab pertanyaan, Codex dapat merencanakan langkah kerja, mengeksekusi tugas, dan menyelesaikan pekerjaan dengan keterlibatan pengguna yang lebih minim.
Menurut Brown, pertumbuhan penggunaan Codex di Indonesia tercatat mencapai 12 kali lipat sejak awal 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan global yang hanya mencapai delapan kali lipat dan di Asia Pasifik yang mencapai 11 kali lipat pada periode yang sama.
Brown juga menyatakan, “Yang kami lihat di Indonesia adalah pergeseran dari penggunaan ChatGPT untuk kebutuhan pribadi menjadi penggunaan untuk pekerjaan pengetahuan dan aktivitas bisnis.”
Selain itu, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pekerjaan mereka. Ini menjadi indikator positif bagi perkembangan teknologi di Indonesia.
Pertumbuhan penggunaan Codex dan jenis AI agent lainnya ini menunjukkan perubahan sikap dan adaptasi pengguna di Indonesia terhadap teknologi kecerdasan buatan. Dengan meningkatnya penetrasi internet dan akses ke teknologi, lebih banyak perusahaan dan individu menggunakan solusi berbasis AI.
Perevolusi ini juga diharapkan dapat mendorong inovasi lebih lanjut di berbagai sektor, menciptakan peluang baru dalam cara bisnis menjalankan operasional dan interaksi dengan pelanggan. Menurut laporan, pendekatan ini bisa meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.












Tinggalkan komentar