Harapan publik global untuk meredakan ketegangan politik di Timur Tengah terhambat setelah pemerintah Iran mengumumkan penarikan diri dari forum negosiasi empat negara di Swiss. Keputusan ini diambil sebagai respons atas ancaman militer yang disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Keputusan tersebut diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa, 23 Juni 2026. Iran memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan damai di tengah intimidasi politik dari Washington.
Presiden Trump memposting pernyataan di media sosial, mengingatkan Iran untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di Lebanon. Ia menyatakan, jika Iran tidak melakukannya, AS akan melakukan serangan yang lebih keras.
“Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras lagi!!!” tulis Trump di Truth Social.
Krisis ini berdampak langsung pada kesepakatan damai yang sedang dibahas oleh kelompok negosiator, termasuk Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mewakili pemerintah AS.
Dalam video yang tersebar di media sosial, PM Pakistan selaku pihak penengah terlihat kecewa dan bingung atas situasi yang terjadi. Ancaman dari AS jelas menjadi pemicu utama Iran menarik diri dari negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Iran tidak akan melanjutkan partisipasi dalam pertemuan di bawah tekanan. Pernyataan yang dilontarkan oleh pihak AS dinilai sebagai bentuk intimidasi yang tidak dapat diterima.
“Iran tidak akan melanjutkan partisipasi dalam koridor negosiasi di bawah kondisi intimidasi seperti ini,” tegas Baqaei dalam laporan resmi yang disampaikan melalui Kantor Berita Tasnim.
Keputusan Iran ini menandai kemunduran lebih lanjut dalam upaya diplomasi yang selama ini diupayakan untuk meredakan ketegangan di kawasan. Penarikan diri ini menunjukkan sulitnya mencari solusi damai di tengah ancaman yang ada.












Tinggalkan komentar