Mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) menuntut agar pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UBK mundur. Tuntutan ini muncul terkait dugaan mereka terlibat dalam penerimaan suap dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Tuntutan tersebut disampaikan dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di kampus UBK. Aksi ini melibatkan ratusan mahasiswa yang menginginkan transparansi dan akuntabilitas dari pengurus BEM.
Menurut beberapa mahasiswa, pengurus BEM telah mencederai nilai-nilai demokrasi dan kepercayaan mahasiswa. Mereka menilai penerimaan suap adalah tindakan yang sangat tidak etis dan mencoreng citra organisasi mahasiswa.
Koordinator aksi, Rina Andriana, mengatakan, “Kami menuntut agar pengurus BEM yang terlibat dengan dugaan suap untuk segera mundur dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Kontroversi ini berawal dari informasi publik yang menyebutkan adanya dugaan suap yang melibatkan sejumlah pengurus BEM. Dugaan ini membuat mahasiswa merasa perlu untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Berdasarkan data yang berkembang, aksi ini terbentuk sebagai respons terhadap situasi yang dianggap merugikan mahasiswa dan citra UBK. Mahasiswa berharap tindakan ini dapat mendorong perbaikan di BEM.
Salah satu mahasiswa, Andi Saputra, menyatakan, “Kami tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan. Kami ingin agar pengurus BEM yang terlibat bertanggung jawab.”
Dalam pernyataannya, mahasiswa menyampaikan bahwa mereka menginginkan BEM yang bersih dan bebas dari praktik-praktik yang merugikan. Mereka juga menyerukan agar pihak rektorat ikut berperan dalam menyelesaikan masalah ini.
Pada akhirnya, mahasiswa UBK menekankan pentingnya integritas di dalam organisasi mahasiswa. Mereka berharap tuntutan ini dapat menjadi momentum bagi perubahan positif di masa depan.












Tinggalkan komentar