FIFA memperkenalkan aturan baru yang melarang pemain menutupi mulut saat berkonfrontasi, di mana pelanggaran ini dapat berujung pada kartu merah. Aturan ini berlaku mulai Piala Dunia 2026 dan berfungsi untuk menjaga disiplin permainan.
Aktor utama dalam insiden ini adalah Miguel Almiron, yang menerima kartu merah akibat pelanggaran yang terjadi antara dirinya dan Mert Mulder. Wasit, Ivan Barton dari Salvador, menindaklanjuti laporan Mulder dan melakukan peninjauan dengan Video Assistant Referee (VAR).
Setelah melihat rekaman, wasit langsung memberikan kartu merah kepada Almiron. Aturan ini, sering disebut sebagai 'Prestianni Law', diperkenalkan setelah insiden antara Vinicius Junior dan Gianluca Prestianni, yang menyita perhatian saat Liga Champions.
Dalam insiden itu, Vinicius menuduh Prestianni melakukan rasisme, sedangkan Prestianni menutupi mulutnya, yang membuatnya terhindar dari sanksi langsung. Namun, UEFA akhirnya menghukum Prestianni dengan larangan bermain selama enam pertandingan.
FIFA merasa perlu menciptakan kebijakan ini untuk memastikan pemain tidak dapat menghindar dari sanksi. "Setiap pemain yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontasi dapat dikenai sanksi," ungkap pernyataan IFAB yang diambil setelah Rapat Umum FIFA pada April lalu.
VAR merupakan teknologi yang bertujuan untuk membantu keputusan wasit dengan merekam video. Sistem ini dirancang untuk mengurangi kesalahan manusia pada keputusan penting dalam pertandingan, termasuk penalti, gol, kartu merah, dan identifikasi pemain.
Teknologi VAR pertama kali diuji di Piala Liga Belanda pada September 2016, dan diujicobakan dalam turnamen FIFA pada Desember 2016 di Jepang. Penggunaan VAR secara penuh baru diterapkan pada turnamen internasional pertama FIFA pada 2017.
Referensi sumber: inet.detik.com. untuk menjamin informasi yang kami sajikan dari sumber terpercaya.












Tinggalkan komentar