Andika Wiryawan Rakit Honda Gorilla dari Nol dengan Komponen Impor

Mesti Musialah

Andika Wiryawan Rakit Honda Gorilla dari Nol dengan Komponen Impor
Andika Wiryawan Rakit Honda Gorilla dari Nol dengan Komponen Impor

JAKARTA, KOMPAS.com – Andika Wiryawan, seorang penggemar motor, memilih untuk merakit Honda Gorilla, motor mini legendaris asal Jepang, dari nol. Keputusan ini diambil karena ia ingin memiliki motor yang tidak pernah dijual dalam kondisi utuh di Indonesia. “Honda Gorilla enggak pernah masuk ke Indonesia setahu saya.

Jadi makanya saya suka gitu, emang ngefans dari dulu Honda Gorilla, jadi saya putusin buat punya,” ujar Andika dalam wawancara dengan Kompas.com pada Rabu (24/6/2026).

MotoGP Belanda Larang Penggunaan Perangkat Holeshot di Sirkuit Assen

Andika menjelaskan bahwa ia lebih memilih merakit motor daripada membeli unit bekas, karena ia ingin memastikan semua komponen sesuai dengan keinginannya. Proyek ini dimulai dengan membeli sasis asli dari Jepang, yang menjadi dasar perakitan motor tersebut. “Jadi pertama itu saya beli paling fundamental, itu sasisnya dulu dari Jepang.

Frame original Honda Gorilla, lengkap, ada part number-nya semua,” ujarnya. Selain sasis, ia juga membeli berbagai komponen lain seperti bodi, lampu, dan tromol dari berbagai sumber.

Tips Aman Melakukan Road Trip Saat Libur Sekolah Bersama Keluarga

Namun, proyek ini bukan sekadar merakit ulang Honda Gorilla standar. Sejak awal, Andika sudah memiliki konsep modifikasi yang ingin diwujudkan. Ia ingin tampilan motor lebih ceper, dengan proporsi yang lebih pendek dan ban yang lebih berisi dibanding versi bawaan. “Jadi apa namanya, pas lagi ngebangun itu saya sendiri udah punya konsep tuh.

Jadi pengen agak ceper. Jadi apa namanya ya, motornya tuh lebih pendek sedikit, 5 cm motornya,” katanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menambahkan suspensi belakang aftermarket yang lebih pendek dan menggunakan ban yang lebih lebar.

Dalam proses perakitan, Andika juga menemukan kejutan pada sektor mesin. Mesin yang awalnya ia kira masih standar ternyata sudah pernah mengalami bore up. “Kalau mesin, mesin saya gelondongan. Cuman itu, tadinya tuh saya pikir ori, tapi ternyata begitu dibuka itu sudah bekas bore up jadinya, jadi udah 100 cc,” ujarnya.

Untuk menghindari masalah overheat, ia memutuskan untuk menurunkan kapasitas mesin menjadi 70 cc, dari kapasitas asli 50 cc.

Tinggalkan komentar