Rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diwarnai kericuhan pada Senin, 22 Juni 2026. Kericuhan ini terjadi saat penentuan lokasi Muktamar NU ke-35.
Suasana sidang memanas setelah muncul dugaan bahwa lokasi Muktamar telah ditetapkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Protes dari peserta awalnya berupa adu argumen, namun kemudian berkembang menjadi tindakan saling dorong antarpeserta.
Situasi sempat tidak terkendali dan memaksa petugas keamanan internal untuk turun tangan menenangkan massa. Setelah situasi kembali kondusif, sidang pleno dapat dilanjutkan kembali tanpa insiden lebih lanjut.
Rekaman video yang menunjukkan kericuhan tersebut kemudian viral di berbagai platform media sosial. Banyak kalangan menyayangkan insiden ini, mengingat citra NU yang dikenal lekat dengan akhlakul karimah.
Salah satu figur yang terlihat terlibat dalam aksi protes adalah Sulaiman Tanjung, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Insiden ini ini menunjukkan perbedaan pandangan di antara para pejabat organisasi mengenai lokasi muktamar.
PBNU pun mengeluarkan klarifikasi, menyatakan bahwa kericuhan tersebut merupakan salah satu akibat dari kesalahpahaman antarpeserta. Pihaknya berharap agar peristiwa ini tidak mengurangi dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar NU ke-35 mendatang.
Menurut catatan, Munas NU 2026 berjalan di tengah harapan untuk memperkuat kerja sama dan mempertahankan konsensus di tubuh organisasi. Ketegangan ini menjadi catatan tersendiri menjelang Muktamar yang dijadwalkan pada waktu yang akan ditentukan kemudian.












Tinggalkan komentar