Gelombang Panas dari Afrika Melanda Eropa, Suhu Tembus 42 Derajat di Prancis

Eniyati

Gelombang Panas dari Afrika Melanda Eropa, Suhu Tembus 42 Derajat di Prancis
Gelombang Panas dari Afrika Melanda Eropa, Suhu Tembus 42 Derajat di Prancis

Gelombang panas ekstrem yang berasal dari Afrika telah melanda Eropa, dengan suhu di Bordeaux, Prancis diperkirakan mencapai 42 derajat Celsius. Hal ini mengakibatkan kematian di antara warga lanjut usia dan penutupan ribuan sekolah di negara tersebut.

Badan meteorologi Meteo France mengeluarkan peringatan merah untuk 49 wilayah administratif akibat suhu yang sangat tinggi. Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, menyatakan, "Kita akan menghadapi, setidaknya, beberapa hari cuaca yang sangat, sangat panas.

Disinformasi di Era AI Memicu Tantangan Baru bagi Kepercayaan Publik dan Demokrasi

Kita tidak tahu kapan suhu akan mulai turun." Ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah mengenai dampak gelombang panas yang sedang berlangsung.

Di wilayah Bordeaux, tiga orang lanjut usia berusia antara 80 hingga 95 tahun meninggal akibat masalah kesehatan yang berhubungan dengan gelombang panas pada akhir pekan lalu.

Timnas MLBB Indonesia Lolos ke Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang

Lonjakan suhu ini disebabkan oleh massa udara panas yang bergerak dari Sahara, didorong oleh sistem tekanan tinggi yang dikenal sebagai 'antisiklon Afrika'.

Ahli meteorologi menjelaskan bahwa sistem ini menciptakan 'kubah panas', yang memerangkap udara panas di atas Eropa barat dan tengah, menyebabkan suhu meningkat setiap harinya. Di Spanyol, wilayah otonom Basque juga mengeluarkan peringatan merah, dengan San Sebastian diperkirakan mengalami suhu hingga 40 derajat Celsius.

Meskipun berada di utara, biasanya daerah ini lebih sejuk.

Selain suhu siang yang ekstrem, suhu malam hari di beberapa bagian Spanyol tetap tinggi, bahkan mencapai 25 hingga 30 derajat Celsius di Provinsi Almeria. Situasi ini memicu krisis bagi tempat rehabilitasi satwa liar.

Selain itu, burung-burung yang bersarang di atap rumah semakin terpukul oleh suhu yang ekstrem.

Romaine de Jaegere, ahli biologi dan pendiri pusat rehabilitasi hewan di Belgia, menjelaskan, "Suhu di atas terkadang bisa mencapai 50 bahkan 60 derajat Celsius.

Jadi mereka lebih memilih untuk melompat daripada membiarkan diri mereka mati dan benar-benar kepanasan di sarang mereka." Ini menyoroti bagaimana gelombang panas tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada ekosistem hewan di Eropa.

Tinggalkan komentar