Akses Internet Didominasi Bot dan AI, Bukan Manusia

Eniyati

Akses Internet Didominasi Bot dan AI, Bukan Manusia
Akses Internet Didominasi Bot dan AI, Bukan Manusia

Dilansir dari Kompas.com, Populasi dunia saat ini mencapai sekitar 8 miliar jiwa, berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa akses internet tidak didominasi oleh manusia.

Lalu lintas internet global kini didominasi oleh agen kecerdasan buatan (AI) dan robot, yang mencapai 57,4 persen dari total trafik. Hal ini menjadi fakta yang cukup mengejutkan di dunia digital.

Peluncuran Schneider OffGrid Portable Power Station di Indonesia untuk Aktivitas Luar Ruang

Menurut CEO Cloudflare, Matthew Prince, bot yang dimaksud mencakup berbagai jenis, seperti agen AI, crawler mesin pencari, alat pemantauan situs, hingga scraper otomatis. Ia menjelaskan bahwa trafik dari bot telah lebih besar dibandingkan manusia sejak beberapa tahun lalu.

Menariknya, aktivitas agen AI yang melonjak ini mencakup sistem yang menjelajahi internet secara otomatis untuk mencari informasi, merangkum konten, atau menyelesaikan tugas atas nama pengguna.

Xi Jinping Serukan Peningkatan Riset untuk Hadapi Persaingan Teknologi AS

Matthew menyatakan, "Pertumbuhan trafik agen AI ini lebih cepat dari perkiraan. Awalnya saya mengira fenomena ini akan terjadi pada akhir 2027, namun sekarang ternyata sudah terjadi," tulisnya dalam sebuah posting di platform X (Twitter) @eastdakota.

Pantauan Cloudflare pada 5 Juni 2026 menunjukkan bahwa bot mengakses sekitar 57,3 persen trafik internet global, sedangkan manusia hanya 42,7 persen.

Dalam rentang waktu yang sama, Cloudflare Radar mencatat trafik yang berasal dari manusia justru berada di kisaran 54 persen, sementara bot 46 persen.

Di Indonesia, trafik internet lebih banyak berasal dari perangkat mobile, mencapai 61,5 persen, disusul dengan desktop di angka 38,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa orang Indonesia masih banyak yang mengakses situs web secara manual, tidak menyuruh bot atau chatbot AI.

Temuan ini memicu perdebatan mengenai "Dead Internet Theory", yang menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas di internet sebenarnya dihasilkan oleh bot dan sistem otomatis, bukan manusia.

Teori ini muncul pada akhir 2010-an dan sempat dianggap berlebihan, namun meningkatnya penggunaan AI generatif dan AI agent membuat sebagian pihak menilai teori tersebut kini semakin relevan.

Melihat tren ini, Matthew memprediksi masa depan web akan mengarah ke model "pay to crawl", di mana perusahaan AI atau bot harus membayar untuk mengakses dan mengambil data dari situs web.

Cloudflare sendiri merupakan salah satu penyedia layanan jaringan dan keamanan internet terbesar di dunia, dan dengan adanya perubahan ini, penting bagi semua pihak untuk memahami dinamika baru dalam akses internet.

Tinggalkan komentar