JAPFA Integrasikan Kajian Ilmiah dalam Strategi Keuangan di S-LCA 2026

Virgiawan Mahardika

JAPFA Integrasikan Kajian Ilmiah dalam Strategi Keuangan di S-LCA 2026
JAPFA Integrasikan Kajian Ilmiah dalam Strategi Keuangan di S-LCA 2026

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berbagi pengalaman sebagai perusahaan perunggasan terintegrasi pertama di Indonesia yang mengintegrasikan kajian ilmiah ke dalam strategi keuangan pada sesi panel 'Science-Based Sustainable Finance' di Konferensi Social Life Cycle Assessment (S-LCA) di Bogor.

Dalam sesi tersebut, JAPFA mengungkapkan bahwa kajian Life Cycle Assessment (LCA) yang menyeluruh menjadi landasan strategis dalam mengakses instrumen pembiayaan berkelanjutan global. Pendekatan ini mendukung visi perusahaan 'Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama'.

Prabowo Soroti Anomali Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Peningkatan Kemiskinan

Penerapan LCA menunjukkan posisi JAPFA sebagai pelopor di sektor perunggasan Indonesia untuk mengukur dampak lingkungan di seluruh rantai produksi. Dengan berkembangnya praktik keuangan berkelanjutan, investor dan lembaga perbankan kini memperhatikan aspek lingkungan dan sosial dalam keputusan investasi.

Institusi keuangan juga diharuskan memastikan bahwa inisiatif keberlanjutan yang mereka biayai memberikan dampak nyata. Metodologi berbasis sains seperti LCA menjadi alat penting untuk menetapkan target keberlanjutan yang transparan dan terpercaya.

Pekerjaan Pemeliharaan Jalan Ruas Tol Jakarta-Cikampek Dimulai 21-26 Juni 2026

Panel diskusi mendorong praktisi LCA untuk membentuk lembaga akreditasi profesi, agar hasil kajian lebih terpercaya oleh komunitas keuangan dan pemangku kepentingan lainnya. Diskusi ini menekankan pentingnya data ilmiah dalam mengidentifikasi material environmental hotspots untuk menetapkan target kinerja keberlanjutan yang ambisius.

Temuan dari kajian tersebut menjadi dasar penyusunan Sustainability Performance Targets dalam instrumen pembiayaan berkelanjutan JAPFA. Kevin Monteiro, Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd, menyatakan, 'Membangun kredibilitas di mata investor ESG harus dimulai dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari bisnis.'

Dia menekankan pentingnya fokus pada aspek yang material di sepanjang rantai nilai untuk mengidentifikasi area perbaikan signifikan. 'Salah satu cara paling kredibel adalah melalui pendekatan LCA berbasis sains,' tambahnya.

Kevin juga menjelaskan bahwa JAPFA telah meraih berbagai pencapaian nyata dari integrasi pendekatan ilmiah dengan strategi keuangan, termasuk penerimaan pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond senilai US$ 350 juta pada 2021.

Dana tersebut menjadi yang pertama di dunia untuk sektor agrifood. Pada tahun 2025, JAPFA kembali memperoleh Sustainability-Linked Loan senilai US$ 150 juta dengan indikator sosial fokus peningkatan gizi anak-anak di pedesaan melalui program JAPFA for Kids.

JAPFA juga mendukung keberlanjutan melalui Japfa Sustainability Reporting System (JSRS), yang mengelola 5.095 titik data ESG setiap bulan di berbagai negara. Selain itu, JAPFA berkolaborasi dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam studi internasional mengenai mata pencaharian peternak plasma.

Hasil studi tersebut menjadi dasar pedoman S-LCA untuk industri perunggasan global. Berkat transparansi dan kinerja keberlanjutan, JAPFA berhasil masuk dalam daftar 'World's Best Companies 2025' versi TIME dan Statista, serta meraih penghargaan 'Best Sustainability-Linked Loan – Agriculture' pada tahun 2026.

Tinggalkan komentar