Konten sampah AI menguasai TikTok, dengan 60% dari video baru di halaman For You berisi konten tersebut, menurut laporan Kapwing. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan di YouTube dan menjadi keprihatinan, terutama bagi pengguna muda.
Kategori Anak-anak memiliki kepadatan konten sampah tertinggi. Kapwing menemukan bahwa tagar #cartoonkids sebagian besar berisi konten yang tidak murni buatan manusia, dengan hanya tiga dari 100 video yang diperiksa valid.
Setelah menunjukkan minat pada konten AI, algoritma TikTok cenderung menyajikan lebih banyak materi serupa kepada pengguna. Hal ini dapat berpotensi membahayakan perkembangan otak anak muda, menurut para ahli.
Teknologi deepfake juga semakin memfasilitasi penyebaran misinformasi dan propaganda. TikTok bukan satu-satunya platform yang mengalami masalah serupa; Facebook dan Instagram juga menghadapi tantangan dalam interaksi pengguna terkait konten aneh dan berdampak negatif.
Pada bulan November, TikTok berencana untuk mengizinkan pengguna mengatur jumlah konten buatan AI di linimasa mereka. Jade Nester, Direktur Kebijakan Publik untuk Keselamatan dan Privasi TikTok Eropa, mengatakan, "Kami mengetahui bahwa banyak orang menikmati konten yang dibuat AI, dari seni digital hingga penjelasan sains.
Kami ingin memberi kebebasan kepada pengguna untuk melihat lebih banyak atau lebih sedikit berdasarkan preferensi mereka."
Secara bersamaan, YouTube juga mengumumkan langkah untuk melabeli konten buatan AI sebagai bagian dari usaha mengatasi masalah konten sampah AI. Namun, perubahan ini belum mengubah cara rekomendasi video atau kriteria monetisasi.
Saat ini, teknologi yang berkembang pesat membuat pembeda antara realitas dan konten sampah AI semakin sulit dilakukan. Masalah ini menambah kerumitan dalam menilai kualitas dan kebenaran informasi yang beredar di platform media sosial.












Tinggalkan komentar