Jakarta Candle, Usaha Lilin Hias dari Bojonggede yang Penuhi Pasar Internasional

Virgiawan Mahardika

Jakarta Candle, Usaha Lilin Hias dari Bojonggede yang Penuhi Pasar Internasional
Jakarta Candle, Usaha Lilin Hias dari Bojonggede yang Penuhi Pasar Internasional

Aroma kayu manis dan lavender memenuhi rumah produksi Jakarta Candle di Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Pemilik usaha, Yulianah (47), menyambut dengan ramah saat terik matahari meniupkan tantangan pada jam 13.00. Produk lilin hias yang beragam telah siap dikirim kepada konsumen.

Usaha Yulianah berdiri lebih dari satu dekade, dimulai pada 2011 di Ciledug dan berpindah ke Bojonggede pada 2013. Suaminya, Dhanu Trapsilo (46), terinspirasi oleh minat masyarakat akan lilin saat tinggal di Bali.

Program Bedah Rumah Targetkan 10.000 Rumah di Jakarta Dimulai Bulan Ini

Berbekal pengalaman di pabrik ekstrak, mereka memulai usaha dengan modal awal Rp 5 juta.

Produk pertama mereka adalah lilin kayu manis. Yulianah mengenalkan produknya ke berbagai instansi, termasuk Kementerian Koperasi dan Perindustrian, yang mendapat respon positif. Perjalanan usaha mereka tidaklah mudah, dengan pemasaran awal bergantung pada informasi dari mulut ke mulut dan pameran.

HET Minyakita Dipertahankan di Rp15.700 per Liter untuk Jaga Daya Beli Masyarakat

Titik balik terjadi pada 2015-2016 saat media sosial dan e-commerce semakin populer. Mereka mendapatkan orderan besar 11.000 lilin dari sebuah departemen store. Yulianah menyebut, selama pandemi COVID-19, permintaan lilin justru meningkat, berkat promosi lewat Instagram dan media sosial lainnya.

Salah satu keunggulan Jakarta Candle adalah proses handmade dan bahan baku ramah lingkungan. Mereka kini lebih banyak menggunakan Palm Wax dan Beeswax, yang diperoleh dari petani madu di berbagai daerah.

Harga lilin beeswax bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat lilin biasa, namun tetap diminati oleh pasar menengah ke atas.

Produk yang ditawarkan mulai dari lilin pilar hingga lilin custom, dengan harga berkisar Rp 25.000 hingga Rp 385.000. Jakarta Candle mengirim produk hingga ke Bali, Bandung, Surabaya, dan Sulawesi. Yulianah juga mencatat adanya pembeli tetap dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Dalam mengembangkan usahanya, Yulianah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang diperolehnya pada 2015. Ia menerima total KUR sebesar Rp 50 juta untuk membeli bahan baku dalam skala besar dan memperkuat usaha.

Yulianah juga berpartisipasi dalam pameran BRI UMKM EXPO dan merasakan manfaat pembinaan dari BRI. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan fokus BRI dalam mendukung segmen UMKM sebagai pilar utama penyaluran kredit, yang mencapai Rp 1.211 triliun.

Dengan dukungan ini, Jakarta Candle berencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya, meskipun saat ini penjualan mengalami penurunan. Yulianah masih mengajak tetangga untuk bekerja sama dalam tahap akhir produksi.

Tinggalkan komentar