Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa mereka sedang mematangkan proses restrukturisasi dan perampingan 300 BUMN. Langkah ini ditujukan untuk memperkokoh fondasi ekonomi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan hal ini dalam pertemuannya dengan Prabowo di kediaman Presiden di Kertanegara pada Senin, 22 Juni 2026. Ujarnya, pertemuan ini untuk membahas percepatan transformasi BUMN serta penguatan sektor-sektor baru sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam menyelaraskan visi perampingan BUMN. Pemerintah menilai bahwa BUMN tidak seharusnya terbebani oleh struktur yang terlalu gemuk dan tidak efisien. Oleh karena itu, integrasi keuangan di bawah Danantara menjadi prioritas utama.
Dari hasil konsolidasi yang dilakukan, Danantara berperan sebagai sovereign wealth fund dan pengelola investasi. Mereka akan mengoordinasikan portofolio bisnis negara agar dapat memiliki nilai komersial yang tinggi. Pemerintah juga berkomitmen untuk mereduksi tumpang tindih dalam tata kelola.
Rosan menjelaskan, dari total 1.077 entitas BUMN, sebanyak 258 entitas telah berhasil dikonsolidasikan. Sekitar 300 entitas lainnya direncanakan untuk segera menyusul dalam proses ini. Konsolidasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat tata kelola, dan memperbesar daya saing BUMN.
Diharapkan, melalui strategi merger dan perampingan korporasi, struktur holding BUMN akan menjadi lebih sehat dan luwes, sehingga lebih mampu bersaing di kancah global. Pemerintah mengharapkan langkah ini dapat membawa dampak positif signifikan bagi perekonomian nasional.












Tinggalkan komentar