Tantangan Adopsi AI di Sektor Keuangan: Infrastruktur dan Shadow AI

Eniyati

Tantangan Adopsi AI di Sektor Keuangan: Infrastruktur dan Shadow AI
Tantangan Adopsi AI di Sektor Keuangan: Infrastruktur dan Shadow AI

Sektor layanan keuangan global saat ini tengah berlomba-lomba mengadopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dengan ritme yang sangat cepat. Namun, ambisi besar ini terhambat oleh kenyataan bahwa banyak perusahaan masih kesulitan memperluas skala pemanfaatan AI secara efektif.

Hal ini terungkap dalam laporan tahunan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) kedelapan yang dirilis oleh perusahaan komputasi hybrid multicloud, Nutanix. Laporan tersebut menyoroti bagaimana tekanan regulasi dan operasional menciptakan titik balik krusial bagi industri keuangan.

China Klaim Badan Intelijen Asing Gunakan Hewan Laut Sebagai Mata-Mata

Salah satu temuan utama dalam laporan ini adalah fenomena yang dikenal sebagai Shadow AI, yaitu penggunaan platform AI oleh karyawan tanpa izin resmi dari perusahaan.

Sebanyak 66% eksekutif IT melaporkan bahwa karyawan mereka menggunakan layanan AI ilegal atau tidak berizin, dan sekitar 86% dari mereka menyadari bahwa praktik tersebut menimbulkan risiko bisnis dan keamanan yang signifikan.

CEO Apple Sinyal Harga Produk Akan Naik Akibat Kenaikan Biaya Komponen

Banyak yang mengira bahwa keterbatasan teknologi adalah musuh utama dalam penerapan AI, namun masalah birokrasi justru lebih menghambat.

Ketika perusahaan keuangan mencoba meningkatkan skala penerapan AI, mereka menghadapi sejumlah kendala, termasuk kompleksitas proses, faktor organisasi, dan keterbatasan teknis. Laporan menunjukkan bahwa 68% eksekutif mengakui bahwa infrastruktur internal mereka belum siap untuk menanggung beban kerja AI yang berat.

Sebagai jalan pintas, 64% perusahaan memilih untuk bergantung pada penyedia pihak ketiga guna menjembatani kesenjangan infrastruktur tersebut.

Selain itu, muncul masalah baru yang dikenal sebagai 'Sovereignty Debt' atau Utang Kedaulatan Data. Lembaga keuangan memegang data sensitif, sehingga 79% organisasi menjadikan kedaulatan data sebagai prioritas utama.

Ironisnya, 62% di antaranya masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di public cloud, yang menciptakan ketidakselarasan dan memicu tumpukan utang kedaulatan data.

Di tengah tantangan ini, tuntutan AI juga menjadi pendorong tren modernisasi. Sebanyak 90% responden sepakat bahwa AI memacu adopsi kontainerisasi, dan 89% yakin tren ini akan terus meningkat.

Untuk beranjak dari sekadar tahap coba-coba menuju implementasi skala besar, lembaga keuangan diwajibkan untuk menyelaraskan infrastruktur, tata kelola, dan proses operasional mereka secara terpadu demi memastikan AI berjalan aman sesuai regulasi.

Jay Tuseth, Vice President & General Manager APJ di Nutanix, menegaskan bahwa persaingan di Asia Pasifik dan Jepang kini bukan hanya tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab.

Tinggalkan komentar