FIFA Ubah Sistem Penentuan Klasemen dengan Aturan Head-to-Head di Piala Dunia 2026

Gilang Priambodo

Juni 21, 2026

2
Min Read
FIFA Ubah Sistem Penentuan Klasemen dengan Aturan Head-to-Head di Piala Dunia 2026
FIFA Ubah Sistem Penentuan Klasemen dengan Aturan Head-to-Head di Piala Dunia 2026

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) mengumumkan perubahan sistem penentuan klasemen untuk Piala Dunia 2026 dengan menggunakan aturan head-to-head. Aturan ini akan berlaku jika dua atau lebih tim memiliki poin yang sama di klasemen.

Sebelumnya, selisih gol keseluruhan menjadi penentu utama posisi klasemen sejak edisi 1970 hingga 2022. Dalam sistem lama, jumlah gol yang dicetak dan kebobolan menjadi sangat penting bagi tim untuk bersaing memperoleh posisi yang lebih baik.

Mulai 2026, jika dua tim memiliki poin yang sama, tim yang menang dalam pertemuan langsung akan ditempatkan di atas. Misalnya, jika tim A mengalahkan tim B dan keduanya memiliki poin sama di klasemen akhir, tim A akan unggul.

BBC melaporkan bahwa perubahan ini dianggap lebih adil karena hasil pertemuan antara dua tim yang bersaing menjadi fokus utama, berbeda dengan penilaian berdasarkan selisih gol yang lebih umum.

Dampak dari perubahan ini sangat signifikan. Sebuah tim dapat mengunci posisi juara grup hanya dengan dua pertandingan. Jika menggunakan sistem lama, upaya tersebut tidak mungkin dilakukan.

Contoh jelas adalah Meksiko yang dapat memastikan diri sebagai juara Grup A setelah dua pertandingan, meraih enam poin dengan dua kemenangan. Di bawahnya, Korea Selatan hanya memiliki tiga poin.

Dengan aturan baru, Meksiko tetap di atas Korea Selatan meski kalah di pertandingan berikutnya, karena mereka telah menang 1-0 saat bertemu langsung.

Di sisi lain, Turki dipastikan tersingkir setelah kalah dari Australia dan Paraguay. Meski mereka berhasil menang atas Amerika Serikat di laga terakhir, mereka tetap berada di posisi buncit karena kalah head-to-head.

Perubahan aturan ini juga menuai kritik dari beberapa pihak. Beberapa menganggap bahwa selisih gol keseluruhan lebih baik sebagai ukuran karena mencakup seluruh hasil laga di fase grup. Meskipun demikian, FIFA tidak sepenuhnya meninggalkan selisih gol.

Saat head-to-head tidak cukup untuk menentukan tim, selisih gol akan digunakan.

Selisih gol juga tetap digunakan untuk menentukan delapan tim peringkat tiga terbaik yang bisa lolos ke fase knockout. Hal ini karena tim-tim tersebut mungkin tidak memiliki lebih dari satu pertemuan selama fase grup dan perlu perbandingan yang lebih luas.


Catatan sumber artikel

Artikel informasi ini dari sumber: sport.detik.com. Sebelum diterbitkan, isinya sudah diperiksa dua kali oleh penulis dan editor kami agar informasinya dijamin benar.

Tinggalkan komentar